Selasa, 03 Juni 2025

Dulu Scroll, Sekarang Slow: Sebuah Cerita Tentang Kita dan Layar

 

"Dulu Scroll, Sekarang Slow: Sebuah Cerita Tentang Kita dan Layar"

Oleh: Muhammad Hafidz Assidiqy

Pagi itu saya terbangun bukan karena alarm, tapi karena notifikasi grup WhatsApp yang ramai sejak subuh. Sekilas saya lihat jam, pukul 05.47. Niat hati ingin memulai hari dengan tenang, tetapi jemari otomatis menggulir layar. Instagram, Twitter, TikTok. Satu per satu dibuka seperti ritual yang sudah tertanam bertahun-tahun.

Dan tiba-tiba, sudah pukul 07.30. Sarapan belum, mandi belum, tapi sudah tahu gosip selebriti dan tren terbaru yang, jujur saja, tak ada pengaruhnya ke hidup saya.

Kita Semua Pernah Ada di Sana

Menurut data We Are Social dan Kepios (2024), rata-rata orang Indonesia menghabiskan lebih dari 7 jam per hari di internet, dan sekitar 3 jam di media sosial saja. Itu artinya, kita menghabiskan seperdelapan dari hidup kita hanya untuk menggulir layar.

Namun yang menarik, tren ini mulai bergeser. Di tengah kebisingan digital, semakin banyak orang mulai merasa lelah. Istilah seperti "digital detox", "mindful scrolling", atau bahkan "puasa media sosial" makin sering terdengar.

Saya pun merasakannya. Setelah sekian lama merasa terus-menerus terhubung, saya mulai merasa justru makin kosong.

Titik Balik: Ketika Notifikasi Jadi Gangguan

Suatu malam, saya sedang duduk bersama keluarga, makan malam sederhana. Lalu ponsel berbunyi. Refleks saya ambil. Kakak saya hanya menatap dan berkata pelan, "Makan dulu, ya. Kamu bisa cek nanti."

Itu sederhana, tapi menampar. Di saat nyata ada orang yang benar-benar hadir, saya justru sibuk dengan orang yang bahkan tidak tahu saya sedang makan malam.

Mulai dari Hal Kecil

Akhirnya, saya coba ubah kebiasaan. Pelan-pelan. Bukan dengan menghapus semua aplikasi atau beli ponsel jadul. Saya mulai dari:

  • Mematikan notifikasi yang tidak penting
  • Mengatur waktu maksimal main media sosial per hari
  • Mengembalikan pagi sebagai waktu "offline"
  • Dan yang paling penting: mulai menikmati jeda

Awalnya aneh. Seperti ada yang hilang. Tapi lama-lama, saya mulai bisa membaca buku lagi, menulis jurnal, dan mengobrol lebih lama dengan orang-orang terdekat.

Bukan Anti-Digital, Tapi Lebih Sadar

Teknologi bukan musuh. Ia alat. Dan seperti semua alat, ia bisa bermanfaat jika digunakan dengan sadar. Tantangan kita hari ini bukan soal memilih antara dunia digital atau dunia nyata, tapi tentang menemukan keseimbangan di antara keduanya.

Karena pada akhirnya, waktu adalah satu-satunya sumber daya yang tak bisa di-recharge. Dan sering kali, yang paling berharga bukan yang tampil di layar, tapi yang hadir di hadapan kita.

Apa Kebiasaan Digital Anda yang Ingin Diubah?

Mari berbagi di kolom komentar. Mungkin cerita Anda bisa jadi inspirasi untuk yang lain.

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar