"Dulu Scroll, Sekarang Slow:
Sebuah Cerita Tentang Kita dan Layar"
Oleh: Muhammad Hafidz Assidiqy
Pagi itu saya terbangun bukan karena alarm, tapi karena notifikasi grup
WhatsApp yang ramai sejak subuh. Sekilas saya lihat jam, pukul 05.47. Niat hati
ingin memulai hari dengan tenang, tetapi jemari otomatis menggulir layar.
Instagram, Twitter, TikTok. Satu per satu dibuka seperti ritual yang sudah
tertanam bertahun-tahun.
Dan tiba-tiba, sudah pukul 07.30. Sarapan belum, mandi belum, tapi sudah
tahu gosip selebriti dan tren terbaru yang, jujur saja, tak ada pengaruhnya ke
hidup saya.
Kita Semua Pernah
Ada di Sana
Menurut data We Are Social dan Kepios (2024), rata-rata
orang Indonesia menghabiskan lebih dari 7 jam per hari di internet, dan sekitar
3 jam di media sosial saja. Itu artinya, kita menghabiskan seperdelapan
dari hidup kita hanya untuk menggulir layar.
Namun yang menarik, tren ini mulai bergeser. Di tengah kebisingan
digital, semakin banyak orang mulai merasa lelah. Istilah seperti "digital
detox", "mindful scrolling", atau bahkan "puasa
media sosial" makin sering terdengar.
Saya pun merasakannya. Setelah sekian lama merasa terus-menerus
terhubung, saya mulai merasa justru makin kosong.
Titik Balik: Ketika
Notifikasi Jadi Gangguan
Suatu malam, saya sedang duduk bersama keluarga, makan malam sederhana.
Lalu ponsel berbunyi. Refleks saya ambil. Kakak saya hanya menatap dan berkata
pelan, "Makan dulu, ya. Kamu bisa cek nanti."
Itu sederhana, tapi menampar. Di saat nyata ada orang yang benar-benar
hadir, saya justru sibuk dengan orang yang bahkan tidak tahu saya sedang makan
malam.
Mulai dari Hal Kecil
Akhirnya, saya coba ubah kebiasaan. Pelan-pelan. Bukan dengan menghapus
semua aplikasi atau beli ponsel jadul. Saya mulai dari:
- Mematikan notifikasi yang tidak
penting
- Mengatur waktu maksimal main
media sosial per hari
- Mengembalikan pagi sebagai waktu
"offline"
- Dan yang paling penting: mulai
menikmati jeda
Awalnya aneh. Seperti ada yang hilang. Tapi lama-lama, saya mulai bisa
membaca buku lagi, menulis jurnal, dan mengobrol lebih lama dengan orang-orang
terdekat.
Bukan Anti-Digital,
Tapi Lebih Sadar
Teknologi bukan musuh. Ia alat. Dan seperti semua alat, ia bisa
bermanfaat jika digunakan dengan sadar. Tantangan kita hari ini bukan soal
memilih antara dunia digital atau dunia nyata, tapi tentang menemukan
keseimbangan di antara keduanya.
Karena pada akhirnya, waktu adalah satu-satunya sumber daya yang tak bisa
di-recharge. Dan sering kali, yang paling berharga bukan yang tampil di layar,
tapi yang hadir di hadapan kita.
Apa Kebiasaan
Digital Anda yang Ingin Diubah?
Mari berbagi di kolom komentar. Mungkin cerita Anda bisa jadi inspirasi
untuk yang lain.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar